HENDRA (Anak sekolah di jalan ninja)
HENDRA
(Anak sekolah di jalan ninja)
Karya Arul panrita.
Bunyi alarm seperti suara tetangga yang ngoceh takkaruan.bau kapuk bantal masih menyelimuti kamar. Udara sedikit pengap,temaram lampu kamar yang kuning mulai lelah.dan bau sisa asap obat nyamuk merangkak terus dari bawah ranjang naik ke atas menyeruak bercampur udara dalam kamar.
Pukul tujuh lewat duapuluh enam menit, pagi itu di hari Senin. Hendra baru terbangun setelah semalaman begadang bermain ML, Mabar kata anak gen z sekarang.
Suara ibu Hendra teriak dari luar kamar, “Hen...hen...bangun...ini hari Senin, mau terlambat lagi kamu!” seru ibu dengan nada sedikit kencang sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar. Mau tak mau, Hendra pun terbangun.”iya...iya...saya bangun” suara Hendra dengan nada masih ngantuk. Ia bangun, duduk di atas ranjang,masih memegangi selimutnya,tak berbaju, hanya celana pendek yang dikenakannya. Ia menatap ke katas jendela kamar, di sana tergantung sebuah jam dinding bundar putih tanpa kaca dan sebagian tepinya telah pecah, seperti luka yang menganga yang tak pernah di tutupi. “ gawat... Sudah setengah delapan?!, aduh....saya terlambat lagi.”gerutu Hendra pada dirinya sendiri. Iabergegas bangun dari ranjangnya,berjalan meraih sebuah hamdukyang mengelantung serampangan di belakang pintu kamarnya,lalu sekilat itu ia keluar dan menuju kamar mandi.
Hendra bergegas ke sekolah, ia mengendarai motornya dengan terburu buru. Ia tak langsung ke sekolah, ia kesebuah rumah tempat yang dia sebet sebagai sekret bersama atau sekber. Di sana sudah ada teman-teman sefrekuensinya dari berbagi sekolah yang ada di kampungnya.dari anak SMP,SMA dan juga anak MAN.
Setelah mereka Mabar, hendarpun barulah menuju ke sekolah dengan mengendarai motornya.
Beberapa saat kemudian, Hendra sudah berada di dekat sekolahnya,pandangannya agak berkunang-kunang,wajahnya pucat, mungkin karena semalam begadang. Ia pun memutuskan untuk masuk ke sekolah, tapi ia tak lewat depan.
Seperti biasa, jalan ninja itu selalu saja melambaikan tangan kepada Hendra dan sefrekuensinya untuk melaluinya. Satu persatu mereka manjat,lalu lompat.giliran Hendra manjat dan melompat masuk ke sekolah,tepat dibelakang lab IPA yang jarang diketahui oleh guru.Prakkkhh...terdengar suara.
Rida, dan teman-temannya baru saja selesai upacara bendera, mereka berhamburan menuju kelas masing-masing.suara riuh siswa memenuhi udara lapangan sekolah. Derap langkah dan suara ketawa sesekali terdengar jelas.
Rida adalah anak siswi kelas sepuluh, dia adalah seorang gadis yang sangat disukai teman kelasnya,sebab Rida orangnya murah senyum dan tak pernah membeda-bedakan teman kelasnya,apakah di perempuan atau laki-laki. Di juga sebagai bendahara kelas.
Beberapa saat kemudian, guru masuk di kelas memberi pelajaran hari itu, guru mengabsen satu persatu siswa,tetapi saat menyebut salah satu nama siswa, tak terdengar suara balasan dari siswa, guru terdiam, matanyaencari siswa yang ia sebut namanya, tak menemukannya.
Lalu guru mengulang kembali menyebut nama itu dan masih tak ada jawaban. Lalu guru bertanya, kemana Hendra?. Teman-temannya saling bertatapan,suara hening dalam kelas menyelimuti beberapa detik. Lalu seorang siswa laki-laki berkata “mungkin dia terlambat pak!”.
Dan benar saja beberapa detik kemudian,Hendra muncul di depan pintu kelas,nafasnya tersengal-sengal,seperti habis lari maraton.bibirnya pucat, rambut dan bajunya sedikit berantakan. Sambil memegangi tasnya yang bergelantungan, Hendra berkata dengan nada datar “maaf pak, saya terlambat”.
Pak guru tak mau memperpanjang masalah, iapun membolehkan Hendra masuk kelas dan mengikuti pelajaran. Hendra duduk sebangku bersama Dika.tanpa bertanya, Dika lalu meraih tasnya dan memasukkannya di laci bangku, mengeluarkan sebuah buku dan pulpen dari dalam tas dan menyimpannya tepat di hadapannya.
Dika berbisik dalam hati “ aneh, kenapa tiba-tiba saja aku merasa kosong, akhh..bodoh amat”. Pelajaran pun berlangsung.
Keesokan harinya, Rida menanyakan kebaeradaan Hendra pada Dika. “Dika, kamu lihat tidak Hendra?, tanya Rida dengan wajah sedikit serius.” Tidak, pagi ini saya belum melihatnya di sekolah, mungkin dia terlambat lagi seperti biasa,Rid” jawab Dika dengan sigap.
Rida sebenarnya espiji yang tertunda Hendra saat masih SMP dulu, Ternyata Rida masih menyimpan perasaannya itu. Sejak masuk SMA Delapan bulan yang lalu, Rida bermaksud ingin mengungkapkan perasaannya, tapi karena di seorang perempuan,ia memendamnya sampai saat ini.hendra pun juga demikian adanya.
Siang saat jam istirahat di kantin dekat kelas mereka, Dika sedang duduk sambil menikmati sebuah sosis. Tatan Dika kosong, pikirannya kemana-mana,ia masih saja merasa tidak mengerti dengan keadaan yang menyelimuti otaknya hari ini. Tiba-tiba Rida dan temannya datang m nghampiri Dika.”
Di sini rupanya kau Dika, kucari-cari di kelas,ternyata di sini.”serobot Rida pada Dika. “makan sendiri-sendir,tak bagi-bagi huu...!” seru Arumi teman Rida kepada Dika. Sambil makan sosis, Dika belum sadar ada Rida dan Arumi menyapanya.
Tatapannya masih seperti tak bergerak. Memandangi siswa-siswa lainnya yang sedang berjalan dari kelas yang jauh. “hey...!..woy Dika!!” seru Rida membuat dika tersentak sadar dari lamunannya. Akhirnya merekapun ngobrol membahas Hendar,guru dan tugas sekolah sambil makan cemilan.
Saat jam pelajaran terakhir,disaat itu jam kosong,Rida kembali menanyakan keberadaan Hendra kepada Dika. Tapi tetap sama, jawaban Dika tetap tak melihat Dika hari ini. Rida lalu bertanya kepada Dika, “dika, tadi pagi waktu pak guru mengabsen kok sepertinya dia melihat dan berbicara dengan Hendra? Tanya Rida dengan nada penuh misteri. “ nah itu dia Rid, itu yang membuat saya dari tadi pagi merasa ada yang aneh. Kok sepertinya pak guru berbicara sendiri, saya kira tadi pak guru berbicara pada saya.kok aneh yah?” jawab Dika penuh keheranan. “ begini saja rid, bagaimana kalau sepulang sekolah nanti, kita ke rumah Hendra saja.” Ajak Dika kepada Rida. “saya panggil arumi yah, boleh? Soalnya klo sendiri,anu...eehh...anu...” kata Rida dengan nada malu. Akhirnya merekapun sepakat.
Sepulang sekolah, Dika ,Rida dan Arumi menuju ke rumah hendra.sebelum sampai di rumah Hendra, dari jalan raya depan rumah Hendra ketiga kawannya terperangah, kaget dengan melihatnya SE gerombolan orang ramai di rumah hendra.ada juga bendera putih terpanpang di depan rumah Hendra.
Terdengar suara tangisan jelas, itu suara ibu Hendra yang menangis lirih dari dalam rumah. Sementara di luar terlihat orang ramai semua duduk di kursi plastik dengan wajah duka.
Posting Komentar untuk "HENDRA (Anak sekolah di jalan ninja)"