Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

CERPEN TIARA

TIARA

Oleh arul panrita


Sudah tujuh kali handpone nya berbunyi, nada dering panggilan itu tak ubahnya seperti alarm yang mengusik telinga di pagi hari untuk bangun. Berdering, berdering dan terus saja berdering. TIARA menatapi hp nya berdering di atas meja belajarnya, ia tak berniat tuk meraihnya, membiarkan saja terus begitu. TIARA menatapinya sambil telungkup di atas kasur empuknya sambil memeluk gulingnya. Matanya seolah menyimpan kekesalan.

Hp nya berdering sudah tujuh kali, sesekali ia hanya melihat nama si penelfon, Roy. Kakak kelasnya yang selama ini yang selalu ia temani pulang sekolah dan juga berangkat sekolah.

TIARA adala anak gadis yang bersekolah di sekolah negeri milik pemerintah daerah setempat, TIARA duduk di bangku kelas sebelas. Sebentar lagi ia akan naik keloas dua belas. TIARA  tergolong anak yang pintar, disiplin dan juga terkenal bunga sekolah yang paling diidolakan siswa di sekolahnya. Parasnya cantik, wajahnya putih bulat dan bersih, hidungnya sedang dan dagunga seolah terpahat kuat menopang wajahnya yang natural, tanpa skincare seperti kebanyakan seusianya.

Tingginya semampai, postur badannya berisi tapi sederhana, tidak kurus dan tidak gemuk.dia termasuk dalam sepuluh siswa yang berprestasi di sekolah.

TIARA anak semata wayang bapaknya, ibunya telah pergi ke syurga sejak TIARA di bangku kelas Sembilan lalu. Ia kini tinggal di rumah neneknya, sebab bapaknya telah menikah lagi dengan seorang janda pirang di sebeklah kampung TIARA. Ibu tiri TIARA ini tak pernah cocok dengan pandangan TIARA, itulah sebabnya TIARA tak mau tinggal dan ikut sama bapaknya, TIARA lebih memmilih tinggal di rumah neneknya, ibu dari ibu TIARA sendiri.

Sejak sepeninggal ibunya, Tiara mengidap penyakit yang tiba-tiba batuk dan mengeluarkan darah segar, tapi itu tak berlansunglama. Tiara suah terbiasa dengan hal itu, ia juga menyembunyikan keadaannya yang demikian ke bapaknya.

Jarum jam telah menunjukkan pukul Sembilan lewat dua puluh satu pagi. Hpnya berhenti berdering, TIARA meraih hpnya, ia melihat ada panggilan telfon dari Roy sebanyak tujuh kali. TIARA lalu duduk di sudut ranjangnya, ia mengutak-atik hpnya, sesekali ia batuk, ia berusaha mencari sebuah nomor wa temannya, Linda.

Linda adaah sepupu dua kali TIARA, dan sekaligus juga sahabat sebestinya. Ia mencoba menghubungi Linda lewat pesan Whatshap “ Lin, sibuk gak hari ini?, klo gak, aku mau ke rumahmu. Ada hal yang mau aku curhatkan “. Tak berapa ama Linda membalas “ tidak, ok, sy tunggu di rumah”. “ okay”, balas TIARA.

Sejurus kemudian, TIARA sudah berada di rumah linda, mereka banyak ngobrol, di samping rumah linda di bawah pohon magga, sebuah kursi sofa tua dan meja tua di bawahnya. kedua gadis itu asyik ngobrol bersama ditemani minuman dingin dan sepiring cemilan di atas meja.

Tak berapa lama mereka asyik ngobrol, tiba-tiba terdengan suara motor di luar depan rumah linda, suara motor yang tak asing bagi TIARA, “ Hmm…tuh dia, pasti dia, ngapain juga dia kesini, dasar buaya”. TIARA dengan nada kesalnya. “ apaan sih kamu tiara?” sahut linda. “itu pasti si congor,biasa, “ ketus TIARA.

“ kamu ini kenapa tiara?,” sapa linda kepada TIARA, “ ah…tolong kamu kedepan dong lin, dan kalau dia mencariku, bilang, saya sudah pulang “.tukas TIARA dengan nada jengkel.

Linda pun keluar kedepan rumahnya menemui seseorang yang mengenarai motor itu, dan menyampaikan apa yang sudah dipesankan TIARA padanya, tak berapa lama, Roy pun pergi dengan motrnya.

Selepas siswa melaksanakan upacara bendera. Di dalam kelas, TIARA terlihat sedang merapika meja dan kursinya, ia menemukan sebuah cermin kecil I atas mejanya, ia tahu peilik cermin itu, pasti si vera, ketua kelasnya yang doyan merias diri.

Tiara terdengar batuk kecil, ia tak sengaja menyeka mulutnya dan mendapati darah membasahi telapak tangannya. Tiara bergegas meraih kaca milik vera tai, ia melihat dirinya dalam cermin, wajahnya tampak pucat, ia sedikit merasakan dingin dan seolah ia akan pingsan.

Tiba-tiba dari luar kelas, terdengar suara beberapa siswa dan derap langkah tergesa-gesa berlarian. TIARA dan semua temannya dalam kelas kaget dan penasaran, adaapa gerangan. Tiba-tiba seorang siswa laki-laki dengan nada tersengal, sengal berteriak, Roy, kakak kelas kita meninggal, dia kecelakaan tabrakan di pertigaan depan sekolah. Dia berboncengan dengan tiara.

Seketika suasana jadi riuh, teriak histeris dan gaduh bercampur jadi satu. TIARA tetiba terperangah mendengar berita itu, seketika pandangannya menyempit, gelap lalu bruk, TIARA jatuh ambruk di atas lantai kelasnya.

Sesat kemudian, roy telah dikerubuti warga yang ada dilokasi kejadian, kecelakaan motor dan sebuah mobil terjadi. Roy diangkat oleh warga ke tepi jalan, seketika roy mulai siuman namun badannya terasa berat, ia berusaha bersuara, perlahan dan berkata “ ti…ti…tiiaara” suara lirih roy tedengar sambil sekat tenaga mencoba menunjuk ke tengah jalanan. Seorang warga lalu berteriak,” masih ada satu korban!’ wanita.” Sedetik kemudian, warga tanpa aba-aba langsung mengangkat wanita itu ke pingir jalanan,sekujur badan wanita itu bersimbah darah, kaku. Seorang warga berkata “ innalillahiwainna ilaihirajiun, sembari perlahan menaruh jasad wanita itu di tepi jalan seberang.

Dengan susah paya, roy bangun, ia mencoba berdiri dengan sekuat tenaga, bergegas merangkak ke teman perempuan yang diboncengnya tadi, “ tiaraaaaa…tiaraaaa…tiaraaaaa” jerit roy seketika ambruk.

Suara handphene berdering dia atas meja belajar tiara, berdering, berdering terus berdering. Berpuluh-puluh pesan whatshap menumpuk di notifikasi hp tiara. 

Suara pintu kamar terbuka perlahan, nenek tiara masuk ke kamar,”sudah seminggu handphonemu masih saja berdering”, ucap nenek tiara denga suara lirih sedih.


Posting Komentar untuk "CERPEN TIARA"