Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

CERPEN PATAH

PATAH

Oleh: arul panrita



Pagi kembali menyapa bumi, suara kokok ayam terdengar bersautan di luar rumah, sepertinya mereka bernyanyi sambil membangunkan orang-orang yang masih dalam buaian mimpi. Sesekali terdengar juga kepakan sayapnya, seperti manusia yang merenggangkan ototnya selepas mematung semalaman.

Jendela kamar perlahan kubuka, terasa sekali sejuk angin dingin pagi ini menusuk. sinar matahari pagi yang tembus dari celah-celah daun dan ranting pohon, lembut menerpa wajah dan sepotong badanku. Suara kicauan burung pun membumi dipgi ini. Seperti ada pasar burung di udara.

Aku megi, anak bapakku dan ibuku. Aku anak lelaki yang sampai sekarang, diusia ini belum pernah sekali melihat wajah bapakku secara langsung. Aku Cuma dibesar ibu, sampai berusia 12 tahun. Lalu ibu pergi bersama adikku dan suami barunya. Sementara aku, tinggal bersama nenek tanpa kakek lagi.

bapakku katanya adalah perantau, ia ke negeri jiran mencari kerja, lau tak pernah pulang sejak ia ke anal sana, dengar-dengar, katanya ia sudah menika, dan sudah punya lagi beberapa anak, dan tentunya itu adalah saudara tirku.

Aku sekarang sudah masuk sekoah SMA. Yah, sekolah negeri milik pemerintah kabupaten ini. Sekarang  sekolaku jauh dari rumah, tak bisa lagi ditempuh dengan jalan kaki, tak seperti waktu sekolah SMP dulu, aku masih bisa jalan kaki, walau jaraknya itu sekitar dua kilometer, tapi aku biasanya kompas.

Tak ada teman seusiaku di kampungku yang lanjut sekolah SMA di sekolahku ini. Mereka pada umumnya langsung berhenti sekolah, ada juga yang ke Malaysia mencari kerja ikut kerabat, dan juga sebagian kecil ke kota untuk lanjut SMK.

Sekarang sudah delapan bulan aku duduk di bangku SMA, Sudah semester dua di kelas sepuuh. Dan kurasa ini semakin berat. Yah, bahkan sangat berat kurasakan. Tapi mau apa lagi, aku harus bisa menjalani ini semua.

Semenjak semester satu kemarin, aku masih tinggal di rumah nenek, di kampungku sendiri yang jauh dari sekolah ini. Aku ke sekolah kadang nebeng teman yang kebetulan lewat di kampungku, kadang juga aku naik angkot jika ada sedikit rejeki dari nenek atau tetangga. Kadang aku terlambat, bahkan tak masuk sekolah karena tak ada tumpangan ke sekolah. Jika terlambat, aku pasti selalu dihukum oleh bapak sekuriti sekolah, dihukum kadang pungut sampah, bersihkan taman, atau bahkan aku disuruh lari keliling lapangan sekolah. Yah, sedikit gambarannya seperti itu. Padahal aku ke sekolah untuk belajar.

Kadang aku geram juga, kecewa dan merasa tak mendapatkan keadilan di sekolah, aku biasa terlambat dan tak tepat waktu masuk, dihukum.namun, banyak juga teman yang lain terlambat, malah tak dihukum seperti aku. Yang parahnya lagi, temanku yang setiap harinya memang selalu terlambat dan lewat “belakang” justru adem ayem melangkah petenteng di dalam sekolah dan masuk belajar.

Terkadang aku berpikir juga, “ lebih baik lewat belakang saja, dari pada lewat depan dan dapat banyak hukuman”.tapi itu membuatku juga merasa semakin bodoh, harus mengikuti kesalahan atau hal yang tak baik.


Sekarang sudah semester dua, aku semakin merasah lelah, dengan bersekolah dengan jarak yang jauh tanpa kenaraan. Aku kini merasa patah. Memikirkan semua itu. Tak seperti teman-temanku yang lain, mereka enak, pakai motor, uang jajan, baju baru, celana, sepatu dan bahkan hp baru. Sementara aku, yah, aku patah.

Suara kokok ayam jantan yang keras membuatku tersentak sadar dari lamunanku. Pagi ini di jendela rumah. Aku tersadar,. Aku mengeha nafas panjang, ku embuskan semua kegelisahanku, masalah hidupku melalui hirup hembusan udara  pagi dari hidungku ke udara, biar berserakan dan hilang saja.

Gi, kamu sudah bangun?, ayo kita sarapan dulu di dapur, ibuku sudah menggoreng telur dan nasi goreng telah sedia katanya di meja makan, terdengar suara jamal menyapaku dari balik pintu kamar.

Eehh,  iya,,iya terimakasih, jawabku dengan nada malu-malu tapi pengen sekali makan. Aku beranjak perlahan dari jendela kamar yang mengaga, seperti mulut manusia yang menguap menadapi hari.

Aku baru sadar, saat berjalan perlahan ke dapur menyusu jamal, Perlahan kesadaranku mulai kembali,, yah, ternyata aku bermalam di rumah jamal. 

Jamal adalah salah satu sahabat baruku, yah, baru setengah tahun ini aku mengenalnya.itupun karean sekolah di sekolah SMA yang sama, sama sama kelas sepeluh dan di kelas yang sama.

Lain waktu, aku akan bercerita tentang si jamal.lanjut lagi, aku duduk berhadapan dengan jamal di meja makan, ibu jamal sedang menggoreng sesuatu, aku dan jamal menikmati masakan nasi goreng ibunya,sangat harum, wangi dan sedap. ini pertama kalinya lagi aku makan nasi goreng masakan rumah sejak ibuku pergi.rasanya kenangan itu kembali menyapaku.

Ibu jamal adalah single parent, jamal di tinggal ayahnya sejak usia TK, karena sesuatu hal. Jamal anak semata wayang ibunya.ibunya senang jika aku ada dirumah ini, temani jamal yang juga sendiri.  Katanya “ biar jamal ada teman mainnya “ kata ibu jamal.

Ini adalah hari pertamaku bermalam atau mungkin saja tinggal bersama jamal, sebab ibunyapun juga sejutu jika aku tinggal di rumahnya menemani jamal, aku juga senang karena lebih dekat ke sekolah, biar bisa jalan kaki bersama jamal ke sekolah.


Posting Komentar untuk "CERPEN PATAH"